BEGIN:VCALENDAR
VERSION:2.0
PRODID:-//Sanggau Berbudaya - ECPv6.15.11//NONSGML v1.0//EN
CALSCALE:GREGORIAN
METHOD:PUBLISH
X-ORIGINAL-URL:https://sanggauberbudaya.id
X-WR-CALDESC:Events for Sanggau Berbudaya
REFRESH-INTERVAL;VALUE=DURATION:PT1H
X-Robots-Tag:noindex
X-PUBLISHED-TTL:PT1H
BEGIN:VTIMEZONE
TZID:Asia/Jakarta
BEGIN:STANDARD
TZOFFSETFROM:+0700
TZOFFSETTO:+0700
TZNAME:WIB
DTSTART:20230101T000000
END:STANDARD
END:VTIMEZONE
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20240919T080000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20240922T170000
DTSTAMP:20260423T171452
CREATED:20240917T163742Z
LAST-MODIFIED:20240921T174904Z
UID:8703-1726732800-1727024400@sanggauberbudaya.id
SUMMARY:Ritual Mandi Daun Sabang
DESCRIPTION:“Ritual Mandi Daun Sabang” adalah kegiatan ritual yang dipercaya oleh masyarakat di Kecamatan Sekayam dan sekitarnya  dimana dapat mengusir wabah atau untuk menolak bala. Jika di daerah lain ritual ini disebut dengan Festival Mandi Safar atau Robo-Robo\, di Kecamatan Sekayam ritual ini sebelumnya disebut dengan ritual Pemandian Taubat\, hingga sekarang ini disebut dengan ritual Mandi Daun Sabang. \nTujuan ritual ini adalah untuk benar-benar memohon ampun kepada Tuhan\, memohon perlindungan kepada-Nya dan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan. Peristiwa ini sangat sakral dan penuh dengan makna simbolik.Ritual ini dilaksanakan oleh masyarakat Melayu yang beragama Islam\, namun demikian warga masyarakat dari etnis lain boleh juga datang pada acara ini\, misalnya etnis Dayak\, Tionghoa\, Jawa\, Bugis\, dan lain-lain. \n \n  \nRitual ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun oleh  masyarakat Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau yang digagas oleh Komunitas Budaya Sekayam (KBS). Namun upacara ini bisa juga dilaksanakan tatkala ada wabah\, musibah atau bencana. Intinya mohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa agar dihindarkan dari segala marabahaya/malapetaka. \nSelain secara rutin setiap tahun dilaksanakan ritual Mandi Daun Sabang ini\, ritual ini bisa juga dilaksanakan kapan saja\, terutama pada  saat ada wabah\, musibah atau bencana untuk menolak bala (seperti pada wabah COVID 19). \nMandi Daun Sabang pada masyarakat Melayu dilaksanakan pada hari rabu terakhir di bulan Safar\, serta pada masa-masa ketika terjadi bencana\, malapetaka ataupun merebaknya wabah penyakit. Untuk daun sabang ini\, terdapat dua jenis yang dipergunakan dalam adat Melayu\, yaitu jenis daun Sabang yang berwarna hijau dan daun Sabang yang berwarna merah. Daun Sabang berwarna hijau dipergunakan ketika akan mandi pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Daun Sabang berwarna merah\, sering dipergunakan ketika akan mandi pada waktu ada bencana\, malapetaka\, atau merebaknya wabah penyakit. Jadi\, penggunaan daun Sabang berwarna merah ini dipergunakan pada waktu tertentu yang tidak diatur kapan penggunaannya\, sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan keadaan jika sangat mendesak. \nDaun Sabang yang berwarna hijau sering dipergunakan pada waktu akan mandi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar\, karena pada hari Rabu di bulan Safar tersebut diyakini Allah menurunkan malapetaka dan bencana ke muka bumi\, sehingga dengan mandi di hari Rabu terakhir pada bulan Safar tersebut diyakini dapat terhindar dari malapetaka dan bencana yang pada masa itu Allah sedang turunkan ke muka bumi. Namun bagaimanapun juga\, ini hanya sebagai media\, selebihnya tinggal tergantung dengan kehendak Allah yang Maha berkehendak. \n  \n \nSecara umum\, daun Sabang (ada juga yang menyebutnya dengan daun Sawang\, masyarakat di Jawa Barat menyebutnya dengan daun Hanjuang\, dan masyarakat Jawa menyebutnya dengan daun Andong Merah) merupakan tanaman yang dianggap suci dan sakral bagi masyarakat Suku Dayak yang mendiami tanah Borneo. Masyarakat suku Dayak Uud Danum di ujung pedalaman Kalimantan Barat juga mempercayai bahwa daun Sabang ini adalah salah satu tanaman yang diangap suci dan sakral. Bahkan hampir setiap rangkaian prosesi adat Dayak Uud Danum mengunakan tanaman sabang. Daun Sabang ini memiliki bentuk batang tegak lurus dengan kisaran tinggi 2 sampai 4 meter. Daunnya yang berwarna merah menyala membuat sejumlah orang tertarik untuk menjadikannya sebagai tanaman hias. \nPada masyarakat Dayak\, daun Sabang digunakan sebagai media untuk memercikan air suci dan ramuan minyak tradisional dalam proses pengobatan “hobolian/balian” atau ritual adat lainnya\, dan dipercaya dapat mengusir roh jahat “Otuk Lio”. Selain itu\, daun Sabang digunakan juga sebagai penangkal roh jahat atau sebagai tanda tertentu yang digantung di atas pintu atau di samping rumah. Jika melihat tanaman ini berada di wilayah Uud Danum\, maka jangan coba-coba untuk memetik tanpa sepengetahuan dari pemiliknya. \nTata cara Mandi Daun Sabang yang perlu disiapkan adalah satu helai daun sabang hijau\, dengan cara mencari daun Sabang hijau yang baik dan bagus bentuknya. Kemudian minyak jakparon\, untuk menulis di daun Sabang itu adalah celak alis\, lalu disiapkan kulit gaharu untuk mengasapi daun Sabang Hijau sebelum ditulis rajah. Sebelum mengkerenahkan daun Sabang Hijau\, pelaksana adat mesti bersirih terlebih dahulu\, karena merupakan petuah yang tidak bisa ditinggalkan. Bersirih yang dilakukan seperti biasa\, yaitu mengambil daun sirih diberi dengan gambir\, pinang\, dan kapur sirih. Daun sirih itu kemudian dilipat lalu dikunyah-kunyah. Selesai bersirih\, dapat dimulai dengan mengkerenahkan daun Sabang Hijau ini untuk dipergunakan mandi pada  hari Rabu terakhir pada bulan Safar. \nPertama-tama yang harus dilakukan adalah mengasapi terlebih dahulu daun Sabang Hijau tersebut dengan kulit gaharu. Gaharunya dibakar dahulu hingga mengeluarkan asap\, kemudian daun Sabang Hijaunya diasap-asapi di atas kulit gaharu yang dibakar tadi\, sambil dibolak-balik dengan membaca ayat. \n“Bismillahirrahmaanirrahiim. Alla ta’luu ‘alayya wa’ tuunii muslimiina”. Membaca ayat tersebut dalam jumlah ganjil\, bisa 3 kali\, 5 kali\, 7 kali sesuai kebutuhan sambil membalik-balikkan daun Sabang Hijau tersebut. Daun Sabang Hijau itu setelah diasapi dengan kulit gaharu\, selanjutnya daun Sabang Hijau itu akan ditulis rajah dengan tulisan tertentu. Penulisan rajahnya dengan menggunakan pensil alis yang telah dicampur dengan minyak gaharu. \nMetode penulisan pada daun Sabang Hijau tersebut dimulai dari pangkal daun (yang ada tangkainya) ke arah ujung\, dan jangan terbalik. Daun Sabang Hijau yang telah ditulisi sudah siap dipergunakan untuk mandi. Caranya dengan memasukkan daun Sabang Hijau tersebut ke dalam ember atau tempat lainnya yeng telah diisi dengan air dan pergunakanlah untuk mandi. Jika airnya telah habis maka dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan. Jika telah selesai semuanya mandi\, maka daun Sabang yang telah dimasukkan ke dalam ember tadi jangan dibuang\, tetapi disimpan di atas pintu rumah. Biarkan daun Sabang Hijau tersebut mengering di atas pintu rumah  dan diambil nanti tahun depan dengan diganti dengan daun Sabang Hijau  yang baru. Daun Sabang Hijau yang telah mengering tersebut\, diambil dan dibuang ke sungai atau ke air yang mengalir seperti di sungai ataupun di laut dan jangan dibuang sembarangan. \nDalam pelaksanaan ritus Mandi Daun Sabang ini banyak mengandung makna fiolofis dan simbolis bagi pembersihan diri manusia baik secara pribadi maupun secara komunitas yang tertuang dalam rentetan penyelenggaraan ritus dan tradisi Mandi Daun Sabang. Mandi yang dilaksanakan pada minggu ketiga di bulan Safar penanggalan Hijriah dimulai dengan pembacaan surah-surah dalam AlQuran\, dzikir dan sholawat yang diawali dengan pendekatan diri kepada Yang Maha Agung\, Tuhan semesta alam\, dan sebagai pintu pembuka barokah\, kebaikan dalam menjalani kehidupan yang barokah\, kehidupan yang baik\, hari itu di dunia maupun di akherat kelak\, yang lazim dilakukan sendiri di rumah\, maupun dilaksanakan secara berjamaah sambil mengelilingi kampung. \nSelanjutnya dilaksanakan mandi dengan air rendaman daun Sabang yang telah ditulis wafaq Arab secara berulang dalam bilangan ganjil. Penulisan di atas wafaq dengan media daun Sabang merupakan simbol keselamatan sesuai makna salamun\, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu keselamatan. Hal ini disesuaikan dengan penggunaan daun Sabang masa pra Islam yang menjadikan media daun Sabang sebagai tolak bala yang lazim dipakai masyarakat secara Islam. \nKemudian\, ritus ini dilanjutkan dengan anjuran sholat sunah maupun sholat wajib yang dilaksanakan sendiri maupun dilaksanakan secara berjamaah\, dan ditutup dengan doa tolak bala\, kemudian dilajutkan dengan silaturahmi dan penyeberangan. Apabila dilaksanakan secara beramai-ramai dengan hidangan aneka kuliner tradisi masyarakat Sekayam. \nPelaksanaan upacara Mandi Daun Sabang secara rutin di setiap tahunnya merupakan jawaban atas kekhawatiran akan hilangnya tradisi dan identitas budaya masyarakat yang dulu lazim dilaksanakan dalam lingkup keluarga maupun dalam komunitas masyarakat\, serta sebuah usaha untuk mengajak masyarakat mencintai budaya dan tradisi dan juga untuk mendorong dan mendukung pemerintah Kabupaten Sanggau agar mengusulkan tradisi ini menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dari masyarakat Sekayam agar ada jejaknya dalam pelestarian budaya daerahnya. \n  \nSumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkalbar/ritual-mandi-daun-sabang/ \nPenulis: Neni Puji Nur Rahmawati\, S.Si.\, M.Sos. (Pamong Budaya Ahi Madya Pada BPNB Prov. Kalbar)
URL:https://sanggauberbudaya.id/event/ritual-mandi-daun-sabang/
LOCATION:Masjid Al-Huda\, Jln. Haji Abbas Balai Karangan 3\, Kecamatan Sekayam\, Kalimantan Barat\, Indonesia
ATTACH;FMTTYPE=image/jpeg:https://sanggauberbudaya.id/wp-content/uploads/2024/09/WhatsApp-Image-2024-09-17-at-23.17.43.jpeg
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;VALUE=DATE:20240918
DTEND;VALUE=DATE:20240922
DTSTAMP:20260423T171452
CREATED:20240829T121317Z
LAST-MODIFIED:20240915T201517Z
UID:8070-1726617600-1726963199@sanggauberbudaya.id
SUMMARY:Festival Faradje’ Pasaka Negeri 2024
DESCRIPTION:sanggauberbudaya.id – Sebuah Kota di Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat mengelar sebuah ritual adat turun temurun yang menarik untuk disaksikan. Namanya adalah Festival Budaya Faradje’ Pasaka Negeri. Kegiatan budaya tersebut memadukan unsur agama\, adat istiadat\, seni budaya dan tatanan Pemerintahan Islam. \nAdat Faradje’ itu sendiri merupakan ritual pembersih negeri yang ada di Kota Sanggau atau disebut tolak bala. Ini merupakan salah satu ritual adat yang kita laksanakan di Kabupaten Sanggau secara rutin. \nFestival yang digelar di Keraton Suryanegara Sanggau ini dihadiri Majelis Kerajaan Nusantara Kalbar\, juga mengundang perwakilan kerajaan dari berbagai daerah di Nusantara\, serta kerajaan negara tetangga dari Serawak (Malaysia) dan Brunei Darussalam\, tak terkecuali Kepala Daerah. \nSanggau sendiri adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang wilayahnya berbatasan berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur). Nama Sanggau berasal dari pohon rambutan yang berkulit tebal dan isinya sangat tipis serta sangat berbahaya jika bijinya tertelan\, bernama sangao. Jauh sebelumnya Sanggau merupakan Kerajaan Melayu yang sudah ada sejak abad ke-4 M dan diteruskan oleh Keraton Surya Negara yang memerintah abad ke-18 dengan rajanya yang bergelar “Panembahan”.
URL:https://sanggauberbudaya.id/event/festival-faradje-pasaka-negeri-2024/
LOCATION:Keraton Suryanegara\, Jalan Pangeran Mas\, Kelurahan Tanjung Sekayam\, Kecamatan Kapuas\, Sanggau\, Kalimantan Barat\, Indonesia
ATTACH;FMTTYPE=image/png:https://sanggauberbudaya.id/wp-content/uploads/2024/08/Faradje.png
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20240830T193000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20240831T220000
DTSTAMP:20260423T171452
CREATED:20240801T063431Z
LAST-MODIFIED:20240916T170046Z
UID:8423-1725046200-1725141600@sanggauberbudaya.id
SUMMARY:Festival Budaya Bumi Daranante 2024
DESCRIPTION:sanggauberbudaya.id – Festival Budaya Bumi Daranante 2024 adalah pagelaran seni budaya multi etnis yang ada di Kabupaten Sanggau. Festival Budaya yang diselenggarakan oleh Sanggar Segentar Alam di Keraton Suryanegara Sanggau ini bertujuan untuk yang mempersatukan keberagaman seni budaya yang ada di Kabupaten Sanggau melalui Pentas Seni. \nTari Piring yang ditampilkan oleh Sanggar Segentar Alam di Festival Budaya Bumi Daranante 2024. \nKegiatan ini juga wujud nyata dari upaya masyarakat Kabupaten Sanggau untuk melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa khususnya seni dan budaya yang ada di Sanggau. \nTak hanya kesenian dari Etnis Dayak dan Melayu\, pagelaran budaya ini menampilkan tari dan musik kreasi dari Etnis Seluruh Indonesia yang berdomisili di Kabupaten Sanggau. \nSalah satu tarian penampilan dari Etnis Melayu yang ditampilkan oleh Sanggar Segentar Alam di Festival Budaya Bumi Daranante 2024. \nIni adalah Festival Budaya Bumi Daranante yang kedua kalinya digelar selama dua hari oleh Sanggar Segentar Alam dan dibiayai penuh oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau melalui Bidang Kebudayaan. \nSalah satu tarian penampilan dari Etnis Dayak yang ditampilkan oleh Sanggar Segentar Alam di Festival Budaya Bumi Daranante 2024. \nUntuk diketahui\, Festival Budaya Bumi Daranante yang pertama kalinya dilaksanakan di Lapangan Rawa Bakti\, Kelurahan Ilir Kota\, Kecamatan Kapuas\, pda waktu itu dibiaya oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Ristek RI pada tahun 2019 yang lalu.
URL:https://sanggauberbudaya.id/event/festival-budaya-bumi-daranante-2024/
LOCATION:Keraton Suryanegara\, Jalan Pangeran Mas\, Kelurahan Tanjung Sekayam\, Kecamatan Kapuas\, Sanggau\, Kalimantan Barat\, Indonesia
CATEGORIES:Budaya
ATTACH;FMTTYPE=image/jpeg:https://sanggauberbudaya.id/wp-content/uploads/2024/09/KMF04873.jpg
END:VEVENT
END:VCALENDAR